Anak Remaja Tidak Mau Bicara dengan Orang Tuanya Apakah Ada Trauma di Sekolahnya

Anak Remaja Tidak Mau Bicara dengan Orang Tuanya, Apakah Ada Trauma di Sekolahnya?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator FAQ 16 July 2026

Pertanyaan:

Anak Remaja Tidak Mau Bicara dengan Orang Tuanya Apakah Ada Trauma di Sekolahnya?

Selamat siang Bu, anak saya sekarang sudah remaja kelas 2 SMA. Dulu semasa SMP sering bercerita apa saja kepada saya, tetapi setelah SMA lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar. Jika saya bertanya, jawabannya hanya singkat atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Saya khawatir ada masalah di sekolahnya namun saya tidak tahu bagaimana cara mendekatinya.

Jawaban:

Bangun Kembali Rasa Aman dan Dengarkan Anak Tanpa Harus Menuduh serta Menghakimi

Terima kasih sudah berbagi cerita dengan kami. Selamat datang di layanan Konseling Profesional Indonesia bersama Ms. Rica Irma Dhiyanti, S.Kom., S.H., M.Si., C.Ht., (Konselor Perkawinan - Coach - Master Trainer - Mediator Nonhakim).

Perubahan perilaku seperti ini cukup sering terjadi pada masa remaja. Ketika anak memasuki usia remaja, mereka sedang belajar mengenal diri sendiri dan ingin memiliki ruang pribadi. 

Diam bukan selalu berarti membenci orang tua atau menyembunyikan sesuatu yang buruk. Terkadang mereka sedang bingung dengan perasaannya sendiri, takut dihakimi, atau belum siap untuk bercerita.

Hal yang paling penting adalah jangan memaksa anak untuk bicara saat itu juga. Semakin ditekan, remaja biasanya akan semakin menutup diri.

Cobalah membangun kembali rasa aman dalam hubungan. Mulailah dengan percakapan ringan tanpa langsung menanyakan masalahnya. 

Misalnya menanyakan kegiatan hari itu, makanan favorit, film yang sedang disukai, atau sekadar mengajak makan bersama. Tujuannya bukan menggali informasi, tetapi membuat anak merasa nyaman berada di dekat orang tuanya.

Hindari respon yang langsung menghakimi atau memberi ceramah panjang. Banyak remaja berhenti bercerita karena merasa setiap cerita akan dibalas dengan kritik, perbandingan, atau kemarahan. 

Sebaliknya, cobalah mengatakan, “Mama hanya ingin mendengarkan. Kalau kamu belum siap cerita sekarang, tidak apa-apa.”

Pilih juga waktu yang tepat. Remaja sering lebih mudah berbicara saat suasana santai, misalnya ketika sedang berjalan bersama, di perjalanan, atau sebelum tidur. 

Kadang mereka lebih nyaman berbicara tanpa merasa sedang diinterogasi Yang terpenting, sampaikan bahwa pintu komunikasi selalu terbuka. 

Kalimat sederhana seperti “Kapan pun kamu siap bercerita, Mama ada untuk mendengarkan” dapat membuat anak merasa dihargai dan tidak dipaksa.

Apabila anak terus menarik diri dalam waktu lama, prestasi sekolah menurun drastis, tampak sangat sedih, mudah marah berlebihan, atau menunjukkan tanda ingin menyakiti diri sendiri tentu ada hal lain.

Selaku orang tua, sebaiknya segera berkonsultasi dengan konselor atau psikolog untuk mendapatkan pendampingan yang tepat.

Ingat, remaja yang diam sering kali bukan membutuhkan lebih banyak pertanyaan, tetapi lebih banyak rasa aman. Hubungan yang hangat, sabar, dan penuh penerimaan akan menjadi jembatan agar anak berani membuka diri sedikit demi sedikit.

Semoga hubungan antara orang tua dan anak semakin dekat, dan komunikasi yang baik dapat terbangun kembali dengan penuh kasih sayang.

Dampak Psikologis Perceraian

HOME ABOUT US LAYANAN COACHING TRAINING MEDIATION BOOK DAFTAR HARGA TANYA JAWAB GALERI VIDEO
  • Tanya Jawab
Next article: Takut Berinteraksi dengan Orang Lain Bagaimana Solusi dan Cara Mengatasinya? Next

Related Articles

Takut Berinteraksi dengan Orang Lain Bagaimana Solusi dan Cara Mengatasinya?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 11 July 2026

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri dan Merasa Rendah Diri?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 11 July 2026

Bagaimana Cara Mengatasi Perasaan Cemas Berlebihan dan Selalu Overthinking?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 11 July 2026

Copyright ©2026 Konseling Profesional Indonesia - Rica Irma Dhiyanti


main version