Suami Melakukan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Saya Harus Bagaimana?

Suami Melakukan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Saya Harus Bagaimana?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator FAQ 21 May 2026

Pertanyaan:

Suami Melakukan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Saya Harus Bagaimana?

Suami saya kalau marah sering mengeluarkan kata-kata kasar, membentak, mengusir saya dari rumah, mengancam, bahkan memukul saya dan anak-anak. Kejadian ini sudah berulang kali. Setelah marah reda, kadang suami menyesal dan meminta maaf, tetapi nanti terulang lagi. Saya bingung apakah suami saya mengalami gangguan mental tertentu atau memang temperamental dan kasar. Saya juga khawatir dengan kondisi mental anak-anak karena sering melihat pertengkaran dan kekerasan di rumah. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Apakah saya harus bertahan, melawan, atau mencari jalan lain? Mohon pencerahannya Bu.

Jawaban:

KDRT Tidal Normal, Anda Harus Menerapi Suami/Istri untuk Perubahan

Terima kasih telah berani menceritakan kondisi yang Anda alami. Dalam pandangan konseling, situasi ini bukan sekadar masalah suami yang mudah marah, melainkan sudah termasuk pola kekerasan dalam rumah tangga, baik secara verbal, emosional, dan fisik.

Perilaku seperti membentak, menghina, mengancam, mengusir, merendahkan, hingga memukuli pasangan dan anak-anak bukan bentuk ketegasan atau luapan emosi biasa (up-normal). Terlebih jika terjadi berulang kali dan membentuk pola yang terus menerus.

Banyak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bertahan karena berharap pasangan berubah setelah meminta maaf. Namun dalam konseling keluarga, penyesalan setelah kekerasan tidak selalu berarti perubahan yang nyata jika tidak disertai kesadaran, tanggung jawab, dan bantuan profesional.

Yang perlu dipahami adalah marah bukan alasan untuk menyakiti. Semua orang bisa dan berhak untuk marah, tetapi tidak semua orang memilih melakukan kekerasan.

Suami Mengalami Gangguan?

Belum tentu bisa langsung disimpulkan memiliki gangguan mental tertentu tanpa pemeriksaan profesional. Namun perilaku yang mudah meledak, agresif, kasar, dan berulang bisa berkaitan dengan beberapa kondisi. 

Di antaranya kesulitan mengendalikan emosi, pola agresivitas yang dipelajari sejak kecil, trauma masa lalu, gangguan pengendalian impuls, penyalahgunaan alkohol atau zat tertentu, atau gangguan kepribadian.

Meski demikian, penting dipahami bahwa apa pun penyebabnya, kekerasan tetap tidak dibenarkan dalam norma, adat, agama, dan Undang-Undang (UU). 

Perlu dipahami, kami berfokus bukan hanya mencari label gangguan pada suami Anda, tetapi melihat apakah perilaku tersebut membahayakan pasangan dan anak-anak serta apakah ada kemauan nyata untuk berubah.

Karena banyak pelaku kekerasan sebenarnya memahami bahwa tindakannya salah, tetapi tetap mengulanginya ketika emosi muncul.

Dampak Kekerasan kepada Istri dan Anak

Kekerasan yang terjadi terus-menerus dapat meninggalkan luka psikologis yang dalam. Pada istri, kondisi ini dapat menimbulkan:

  • Trauma 
  • Cemas dan depresi
  • Merasa tidak berharga
  • Rasa takut berkepanjangan
  • Kehilangan rasa percaya diri
  • Kelelahan mental karena dalam tekanan

Sementara pada anak-anak, melihat ayah memukul atau mengancam ibu dapat memengaruhi perkembangan emosi dan mental mereka. 

Anak bisa menjadi penakut, cemas, mudah marah, sulit percaya pada orang lain, mengalami trauma, atau bahkan meniru perilaku kasar tersebut saat dewasa nanti.

Karena itu, menjaga anak tetap berada dalam lingkungan yang aman merupakan hal yang sangat penting.

Istri Harus Melakukan Apa?

Dalam konseling keluarga, keselamatan menjadi prioritas utama. Jika suami sedang berada dalam kondisi sangat marah dan agresif, fokus pertama bukan memenangkan perdebatan, melainkan melindungi diri dan anak-anak.

Jika situasi mulai membahayakan, silakan istri dan anak-anak untuk:

  • Mencari tempat aman
  • Jauhkan anak dari konflik
  • Hindari melawan secara fisik
  • Hubungi keluarga/pihak yang bisa membantu

Menyelamatkan diri bukan berarti durhaka atau gagal sebagai istri, tetapi bentuk perlindungan terhadap keselamatan diri dan anak-anak.

Setelah kondisi tenang, penting untuk melihat apakah suami memiliki kesadaran untuk berubah. Perubahan yang sehat biasanya ditunjukkan dengan:

  • Bersedia didamping profesional
  • Bersedia ikut konseling/terapi mental
  • Mengakui kesalahan tanpa menyalahkan pasangan
  • Menunjukkan perubahan perilaku secara konsisten

Bantuan Profesional Sangat Penting

Anda tidak perlu menghadapi semua ini sendirian. Konseling sangat menyarankan korban kekerasan untuk memiliki support system yang aman, seperti keluarga terpercaya, sahabat, konselor, psikolog, atau pihak perlindungan perempuan dan anak.

Di Indonesia tersedia layanan pengaduan dan perlindungan bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Seperti SAPA 129, UPTD PPA, KPAI atau lembaga perlindungan lainnya di masing-masing daerah.

Mencari bantuan bukan membuka aib keluarga, melainkan langkah untuk melindungi kesehatan fisik dan mental seluruh anggota keluarga.

Harus Bertahan atau Pergi?

Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap rumah tangga. Konseling tidak bertujuan memaksa seseorang bertahan ataupun berpisah secara terburu-buru. Namun ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan:

  • Apakah suami benar-benar mau berubah?
  • Apakah anak-anak dalam trauma/ketakutan?
  • Apakah Anda masih aman saat berada di rumah?
  • Apakah kekerasan semakin berat dan membahayakan?

Perkawinan seharusnya menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat yang dipenuhi rasa khawatir dan takut yang meneror setiap waktu.

Jika pasangan terus melakukan kekerasan tanpa usaha berubah, maka mempertimbangkan perlindungan diri dan anak-anak adalah langkah yang bijaksana.

Saran Ibu Ica

Perilaku KDRT tidak hanya menimpa istri. Terkadang suami bisa juga mengalami KDRT dari istrinya karena istri seorang olahragawan berat.

Misalnya istri berprofesi olahraga berat: atlet silat, taekwondo, karateka, atau atlet angkat beban berat dan kondisi ini juga sering menimpa para suami. 

Suami maupun istri yang memiliki temperamental, kasar, dan perangai buruk membutuhkan pertolongan serius dari ahli dan profesional. 

Suami, istri dan anak-anak juga membutuhkan perlindungan serta pemulihan emosional. Dalam rumah tangga yang sehat, pasangan mungkin berbeda pendapat dan bisa marah, tetapi tidak saling merendahkan, mengancam, atau menyakiti (memukul/mencubit).

Tujuan konseling bukan sekadar mempertahankan rumah tangga apa pun kondisinya, melainkan membantu keluarga membangun hubungan yang aman, sehat, dan penuh penghargaan.

Suami, istri dan anak-anak berhak hidup tanpa kekerasan. Terlebih anak-anak berhak untuk tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman, nyaman dan dicintai.

  • Tanya Jawab
Next article: Pasangan Dingin Saat Berkomunikasi, Apakah Saya Terlalu Sensitif? Next

Related Articles

Pasangan Dingin Saat Berkomunikasi, Apakah Saya Terlalu Sensitif?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 21 May 2026

Pasangan Dinyatakan Mandul Haruskah Saya Bertahan atau Mundur Teratur?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 20 May 2026

Haruskah Saya Batalkan Perkawinan Karena Perbedaan Status Sosial?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 19 May 2026

Copyright ©2026 Konseling Profesional Indonesia - Rica Irma Dhiyanti


main version