Anak Malas Belajar dan Kurang Motivasi Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?

Anak Malas Belajar dan Kurang Motivasi, Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator FAQ 10 July 2026

Pertanyaan:

Anak Malas Belajar Kurang Motivasi Apa yang Harus Saya Lakukan?

Bu, saya memiliki anak yang kelas VIII SMP. Akhir-akhir ini ia malas belajar. Sepulang sekolah, ia lebih sering bermain ponsel atau menonton video. Jika saya mengingatkannya untuk belajar, ia selalu menunda atau menjawab nanti saja. Nilainya mulai menurun. Gurunya juga mengatakan bahwa ia kurang bersemangat di kelas. Saya dan suami sudah mencoba menasihati, mengurangi waktu bermain ponsel, bahkan pernah memarahinya. Namun, tidak ada perubahan. Saya khawatir masa depannya seperti apa? Bagaimana agar semangat belajarnya kembali tumbuh?

Jawaban:

Membangun Motivasi Belajar Dimulai dari Memahami Perasaan Anak

Terima kasih sudah berbagi cerita dengan kami. Selamat datang di layanan Konseling Profesional Indonesia Rica Irma Dhiyanti, S.Kom., S.H., M.Si., C.Ht., (Konselor Perkawinan - Coach - Master Trainer - Mediator Nonhakim).

Ibu, banyak orang tua menganggap anak yang tidak mau belajar sebagai anak yang malas. Padahal, penyebabnya belum tentu kemalasan. Anak mungkin sedang lelah, kehilangan rasa percaya diri, mengalami tekanan di sekolah, atau tidak memiliki tujuan belajar.

Karena itu, jangan langsung memarahi anak. Cari tahu lebih dahulu apa yang sedang ia rasakan. Ajak ia berbicara dalam suasana yang tenang. Dengarkan ceritanya tanpa menyela dan tanpa menghakimi.

Hindari membandingkan anak dengan siapa pun. Perbandingan hanya membuat anak merasa dirinya tidak mampu. Akibatnya, semangat belajarnya justru semakin menurun.

Berikan target yang sederhana. Misalnya, belajar selama tiga puluh menit setiap hari. Target yang ringan lebih mudah dilakukan daripada tuntutan yang terlalu tinggi.

Berikan apresiasi atas setiap usaha, bukan hanya hasil. Pujilah ketika anak mulai disiplin belajar, mengerjakan tugas, atau berusaha memperbaiki nilainya. Apresiasi akan membantu membangun rasa percaya dirinya.

Orang tua juga perlu memberi contoh. Batasi penggunaan gawai saat bersama anak. Ciptakan suasana rumah yang nyaman untuk belajar. Anak lebih mudah meniru daripada mendengar nasihat.

Jika perubahan tidak kunjung terlihat dan disertai sikap murung, mudah marah, atau menarik diri dari lingkungan, segera konsultasikan kepada guru BK atau konselor. 

Pendampingan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab yang sebenarnya. Perlu diingat, tujuan orang tua bukan sekadar memperoleh nilai yang tinggi. 

Tujuan yang lebih penting adalah membentuk anak yang percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki semangat belajar sepanjang hidup. 

Motivasi tidak tumbuh karena paksaan. Motivasi tumbuh karena anak merasa dipahami, dihargai, dan didukung oleh orang tuanya.

Dampak Psikologis Perceraian

HOME ABOUT US LAYANAN COACHING TRAINING MEDIATION BOOK DAFTAR HARGA TANYA JAWAB GALERI VIDEO
  • Tanya Jawab
Previous article: Bagaimana Cara Mengatasi Perasaan Cemas Berlebihan dan Selalu Overthinking? Prev Next article: Konflik Warisan dalam Keluarga Memicu Perselisihan Antara Saudara Bagaimana Solusi dan Cara Mengatasinya? Next

Related Articles

Anak Remaja Tidak Mau Bicara dengan Orang Tuanya, Apakah Ada Trauma di Sekolahnya?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 16 July 2026

Takut Berinteraksi dengan Orang Lain Bagaimana Solusi dan Cara Mengatasinya?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 11 July 2026

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri dan Merasa Rendah Diri?

Rica Irma Dhiyanti - Coach • Trainer • Konselor • Mediator 11 July 2026

Copyright ©2026 Konseling Profesional Indonesia - Rica Irma Dhiyanti


main version